Rabu, 25 Agustus 2010

Anjing Penolong

Kisah ini menceritakan tentang sebuah keluarga petani yang tinggal di sebuah desa. Keluarga itu dikaruniai seorang putri yang masih berumur enam bulan. Mereka juga memelihara seekor anjing yang sangat mereka sayangi. Anjing itu begitu pintar dan setia kepada majikannya. Ia bisa diandalkan untuk membantu pasangan petani itu di dalam menjaga sawahnya. Mereka tidak perlu membuang waktu untuk menjaga burung-burung atau tikus yang akan merusak tanaman padi karena si anjing akan mengusir burung-burung yang datang untuk melahap padi mereka. Karena kegesitannya, anjing itu selalu berhasil menangkap tikus-tikus nakal yang merusak tanaman padi dan mencabik-cabik tubuh mereka.


Pagi itu, si petani bermaksud menjual hasil sawahnya ke kota, tetapi kali ini ia terpaksa harus mengajak istrinya karena banyaknya hasil sawah yang harus mereka bawa ke pasar. Masalahnya, siapa yang akan menjaga si kecil yang baru berumur enam bulan itu? "Kan, ada si anjing," kata pak tani kepada istrinya. Maka, berangkatlah suami-istri itu ke pasar dan mempercayakan pengawasan bayi mereka kepada si anjing setia. Toh, selama ini kesetiaan dan kepintarannya sudah terbukti.

Setelah semua hasil panennya habis terjual, mereka pun pulang ke rumah. Melihat majikannya datang, dari kejauhan si anjing menyalak, melompat-lompat sambil berputar-putar seolah ingin memberitahukan kepada majikannya, "Cepat kemari, ada sesuatu yang sudah terjadi." Setelah dekat, suami-istri itu pun kaget bukan kepalang. Betapa tidak, mereka melihat moncong si anjing berlumuran darah. "Pastilah anjing ini sudah memakan bayi kita." Jerit istri petani histeris. Serta merta, pak tani mengambil sebatang kayu, sambil mencaci maki si anjing, "Anjing kurang ajar, tidak tahu diuntung, teganya engkau memakan bayi kami." Sekuat tenaga pak tani itu memukulkan kayu ke kepala anjing tersebut. Anjing itu pun sempoyongan, berteriak lemah dan memandang tuannya dengan mata sayu, setelah itu ia rebah dan tak bernyawa dekat kaki tuannya.

Suami-istri itu bergegas ke dalam dan di sana mereka melihat bayi kecil mereka sedang tertidur lelap. Di bawah tempat tidurnya, tampak bangkai ular besar dengan darah yang berceceran di tanah bekas gigitan si anjing. Suami-istri itu pun duduk terkulai. Penyesalan mendera hati mereka karena telah membunuh anjing setia yang justru telah menyelamatkan bayi mereka dari serangan ular besar.
***

Cerita ini mengajak kita kembali kepada pengajaran Tuhan, tentang bagaimana kita harus menguasai diri sepenuhnya dan tidak cepat terbakar emosi dalam kemarahan. Banyak permasalahan yang timbul karena emosi yang tidak terkendali. Mari kita melatih diri untuk mengendalikan emosi sehingga kita tidak melakukan tindakan yang bodoh. Artinya, jangan pernah melakukan tindakan apa-apa ketika Anda sedang emosi ataupun marah.

Sumber: Buku 'Surat dari Sang Maha Pencipta' oleh Vanny Chrisma W.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar